Saturday, December 31, 2016

Mengapa Orang Jawa Tetap Eksis Dengan Keterbatasan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Yang Rusak?


1.      Pendahuluan
Pulau Jawa adalah pulau yang membujur dari barat ke timur dengan luas daratan sekitar 126.700 km2 yang dikelilingi oleh perairan Laut Jawa, Selat Sunda, Samudera Hindia, dan Selat Bali. Secara administratif, Pulau Jawa dibagi atas enam provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Provinsi ini juga meliputi beberapa pulau di sekitarnya diantaranya Pulau Madura, Kepulauan Seribu dan Kepulauan Karimun Jawa, serta beberapa pulau kecil lainnya yang tersebar di seluruh garis pantai Pulau Jawa.

Pulau Jawa luasnya hanya mencapai 7% dari total seluruh luas daratan Nusantara, tetapi mempunyai daya tarik yang tinggi ditinjau dari segi sosial, ekonomi, geopolitik, dan kondisi sumberdaya alam. Menurut Pravitasari (2009), Pulau Jawa memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan nasional karena: (a) merupakan lokasi pusat pemerintahan; (b) ditempati oleh sebagian besar penduduk Indonesia yang dihuni oleh sekitar 60% penduduk nasional (Ekawati et al., 2014); dan (c) berkontribusi paling besar dalam perekonomian nasional (sekitar 59% PDRB nasional). Berbagai faktor, seperti kekayaan sumberdaya alam (khususnya kesuburan tanah), sejarah, geografi, sosial-budaya, kondisi infrastruktur dan aksesibilitas ke sistem perekonomian nasional dan global menyebabkan Pulau Jawa tumbuh menjadi kawasan paling berkembang di Indonesia (Pravitasari, 2009).

Berdasarkan letak geografi dan kondisi topografi, Pulau Jawa memiliki kelebihan dibanding pulau lain di Indonesia. Pulau Jawa yang merupakan hasil bentukan kegiatan vulkanik memberikan tingkat kesuburan yang tinggi. Secara geologik, Pulau Jawa merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi lanjutan patahan kerak bumi dari Pulau Sumatera yang berada di lepas pantai selatan Pulau Jawa (Arifianto, 2010). Pulau ini memiliki barisan gunung aktif, antara lain, Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Gunung Bromo di Jawa Timur. Lebih lanjut, Iklim P. Jawa berdasarkan data iklim dari Badan Meteologi dan Geofisika berada pada tipe iklim A sampai F (Schmidt & Ferguson,1951) dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 1000-5000 mm/th. Iklim A dan B terutama terdapat di Propinsi Jawa Barat, C dan D di Jawa Tengah, sedangkan E dan F terutama di Jawa Timur (Rusdiana, 2001).

Jawa adalah salah satu pulau di Indonesia dan merupakan terluas ke-13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta, pulau ini berpenduduk terbanyak di dunia dan merupakan salah satu tempat terpadat di dunia. Meskipun hanya menempati urutan terluas ke-5, Pulau Jawa dihuni oleh 60% penduduk Indonesia, Angka ini turun jika di bandingkan sensus penduduk tahun 1905 yang mencapai 80,6% dari seluruh penduduk indonesia penurunan penduduk di pulau jawa secara persentase di akibatkan perpindahan penduduk (Transmigrasi) dari pulau jawa ke seluruh indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura). Lebih lanjut, Berdasarkan proyeksi yang dilakukan oleh BPS (Biro Pusat Statistik), jumlah penduduk P. Jawa diperkirakan akan mencapai sekitar 150 juta jiwa pada tahun 2015 dari sekitar 250 juta jiwa penduduk Indonesia (Rusdiana, 2001).  Jawa adalah pulau yang menjadi tempat tinggal lebih dari 60% populasi Indonesia (Ekawati dkk., 2015) Dengan kepadatan 1.317 jiwa/km²,pulau ini juga menjadi salah satu pulau di dunia yang paling dipadati penduduk. Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa (Anonim, 2016).

Apabila ditinjau dari sudut pandang asal usul penduduk yang bermukim di Pulau Jawa, tidak akan terlepas dari sejarah manusia jawa dari jaman prasejarah. Manusia tertua, yang dikenal di dunia, berumur 1.8 juta tahun. Fosil manusia ini adalah tengkorak dari lima individu, tempat penemuannya di Perning, Mojokerto dan ke dalam ilmu paleoantropologi dikategorikan sebagai Pithecanthropus modjokertensis atau menurut terminology baru disebut Homo erectus modjokertensis. Inilah awal hunian manusia di pulau Jawa. Homo erectus hidup di Jawa --dan rupanya di sebagian pulau lain juga sampai kurang lebih 200 ribu tahun yang lampau. Sejak 40 ribu tahun yang lalu Jawa dan sebagian besar kepulauan Nusantara telah dihuni oleh Homo sapiens, mula-mula dari ras Autromelanesid, yang sejak kurang lebih 10 ribu tahun mengalami proses mongolidisasi. Proses mongolidisasi ini agak intensif dalam seribu tahun yang akhir ini. Etni Jawa terbentuk sekitar 2168 tahun yang lalu (Glinka, 2001).

Sejak dahulu masyarakat Jawa telah membuka hutan, mengubah ekosistem dan bentang alam untuk dijadikan sawah dan pemukiman untuk mendukung pertumbuhan populasi. Tercatat bahwa dampak manusia yang intensif terhadap hutan di Jawa baru dimulai kurang lebih 1.500 tahun yang lalu (Sèmah et al, 2011) atau tahun 800 M (Tolo, 2013). Pulau Jawa dengan jumlah penduduk terpadat memang terus mengalami penurunan kualitas ekosistem. Jumlah penduduk yang demikian besar dengan tingkat kesejahteraan yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun, telah menyebabkan tekanan terhadap kebutuhan sumber daya alam yang semakin meningkat. Akibatnya, perubahan ekosistem Pulau Jawa yang mengarah pada penurunan kualitasnya tak mungkin terhindarkan. Berdasarkan uraian tersebut, maka makalah ini akan menjelaskan eksistensi orang Jawa walaupun terjadi penurunan kualitas lingkungan di Pulau Jawa. Deskripsi ini meliputi beberapa faktor seperti laju populasi penduduk di Pulau Jawa, degradasi kualitas lingkungan di Pulau Jawa, kearifan lokal sebagai salah satu kunci eksistensi orang Jawa, dan Pulau Jawa sebagai Pilihan.


2.      Laju populasi penduduk di Pulau Jawa
Dinamika penduduk adalah perubahan keadaan penduduk. Perubahan perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Dinamika atau perubahan lebih cenderung pada perkembangan jumlah penduduk suatu Negara atau wilayah tersebut. Jumlah penduduk tersebut dapat diketahui melalui sensus, registrasi dan survey penduduk. Di Indonesia sensus pertama dilaksanakan pada tahun 1930 pada zaman Hindia Belanda. Sedangkan sensus yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dimulai pada tahun 1961,1971, 1980, 1990, 2000, dan yang terakhir tahun 2010.

Pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa dipengaruhi oleh berbagai variabel demografi seperti kelahiran, kematian, dan migrasi. Meskipun tingkat fertilitas di Pulau Jawa sejak tahun 1970 hingga tahun 2000 mengalami penurunan yang cepat dibandingkan daerah lain di Indonesia, tetapi penurunan tingkat fertilitas tersebut ternyata diikuti dengan banyaknya migran masuk ke Pulau Jawa (Malamassam & Surtiari, 2011). Hal ini terjadi terutama karena faktor daya tarik ekonomi yang dimiliki Pulau Jawa.

Jika dicermati lebih lanjut, 17 kota/kabupaten yang memiliki tekanan penduduk tinggi umumnya didominasi oleh wilayah administratif kota. Wilayah kabupaten yang tergolong dalam tipologi tinggi ini pun (Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang) pada umumnya berbatasan langsung dengan wilayah administratif kota. Sementara itu, kota-kota sedang dan kota-kota kecil, serta sebagian besar kabupaten di Pulau Jawa tersebar dalam kelas sedang dan rendah. Tingginya nilai indeks kependudukan di beberapa wilayah perkotaan di Pulau Jawa menunjukkan pemusatan tekanan penduduk yang tinggi di kota-kota besar di Pulau Jawa akibat distribusi penduduk yang tidak merata. Fenomena lain yang dapat ditangkap dari persebaran spasial tipologi indeks kependudukan adalah adanya beberapa wilayah kota yang berasal dari pemekaran kecamatan dari sebuah kabupaten. Kota hasil pemekaran, seperti Sukabumi, Cirebon, Tasikmalaya, Magelang, Probolinggo, dan Madiun memiliki perkembangan yang jauh lebih pesat dibanding kabupaten induknya, termasuk perkembangan dalam hal tekanan penduduk (Malamassam & Surtiari, 2011). 

Pemusatan tekanan penduduk terjadi di wilayah barat Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Wilayah DKI Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan dan pusat seluruh aktivitas ekonomi di Indonesia membawa konsekuensi tingginya tekanan penduduk di wilayah ini, terutama disebabkan faktor migrasi. Beberapa wilayah perkotaan di Provinsi Jawa Barat dan Banten memiliki jarak geografis cukup dekat dengan Jakarta kemudian berfungsi sebagai hinterland Jakarta dan turut mendapat imbas tekanan penduduk yang cukup besar. Pada kasus Pulau Jawa, kepadatan dan pertumbuhan penduduk yang rendah lebih banyak terjadi di kabupaten-kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang pada umumnya memiliki migran keluar yang cukup besar. Studi Darmawan & Chotib (2007) menunjukkan migrasi masuk yang sangat tinggi terjadi di Jawa Barat dan DKI Jakarta, sedangkan migrasi keluar di Pulau didominasi oleh Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.

Perubahan tersebut selalu terjadi, dan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 Tentang ´Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera disebut sebagai Perkembangan Kependudukan. Perkembangan kependudukan terjadi akibat adanya perubahan yang terjadi secara alami maupun karena perilaku yang terkait dengan upaya memenuhi kebutuhannya. Perubahan alami tersebut adalah karena kematian dan kelahiran. Sedangkan yang terkait dengan upaya pemenuhan kebutuhan adalah migrasi atau pindahan tempat tinggal. Adapun faktor-faktor demografi yang mempengaruhi pertambahan penduduk antara lain:

a.       Kematian, adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian  dan faktor penghambat kematian.
b.      Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran  dan mendukung kelahiran.
c.       Migrasi, merupakan akibat dari keadaan lingkungan alam yang kurang menguntungkan. Sebagai akibat dari keadaan alam yang kurang menguntungkan menimbulkan terbatasnya sumber daya yang mendukung penduduk di daerah tersebut.

Tinjauan migrasi secara regional sangat penting dilakukan terutama terkait dengan kepadatan dan distribusi penduduk yang tidak merata. Migrasi salah satu dari tiga komponen dasar dalam demografi, Migrasi bersama dengan dua komponen lainnya, kelahiran dan kematian, mempengaruhi dinamika kependudukan di suatu wilayah.

Selanjutnya akan dibahas lebih lanjut mengapa terjadi migrasi terutama ke pulau Jawa, karena hal inilah yang dianggap sebagai hal yang penting mempengaruhi kepadatan penduduk pulau Jawa yang semakin meningkat. Selain eksistensi penduduk pulau Jawa yang menduduki urutan pertama penduduk terbanyak di seluruh wilayah Indonesia. studi yang dilakukan oleh Na’im dan Syaputra, (2011) menjelaskan tentang struktur dan komposisi penduduk menurut kelompok suku bangsa secara rinci Suku Jawa yang berasal dari Pulau Jawa merupakan kelompok suku bangsa yang terbesar dengan populasi sebanyak 95,2 juta jiwa atau sekitar 40,2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Suku Jawa ini merupakan gabungan dari Suku Jawa, Osing, Tengger, Samin, Bawean/Boyan, Naga, Nagaring dan suku-suku lainnya di Pulau Jawa.  Suku bangsa terbesar berikutnya secara berturut-turut adalah Suku Sunda dengan jumlah sebanyak 36,7 juta jiwa (15,5 persen), Suku Batak sebanyak 8,5 juta (3,6 persen) dan Suku asal Sulawesi lainnya sebanyak 7,6 juta jiwa (3,2 persen). Suku Batak mecakup Suku Batak Angkola, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak Dairi, Batak Simalungun, Batak Tapanuli, Batak Toba dan Dairi. Sedangkan kelompok suku bangsa asal Sulawesi lainnya merupakan gabungan dari sebanyak 208 jenis suku bangsa asal Sulawesi tidak termasuk Suku Makassar, Bugis, Minahasa dan Gorontalo.

Banyak hal menarik yang dapat didiskusikan dari Migrasi penduduk luar Jawa ke Jawa, di bawah ini akan dicoba memberikan ilustrasi tentang hal-hal tersebut. Berikut ini adalah hal-hal yang menjadi daya tarik migrasi ke pulau Jawa :
a.       Pembangunan cenderung hanya di Jawa, Pulau Jawa merupakan pusat pemerintahan, selalu mendapat sorotan dunia. Makanya pembangunan sangat gencar karena dianggap sebagai representasi Indonesia. Pada akhirnya terciptalah kota-kota metropolitan di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pembangunan yang gencar di Jawa tentunya seiring sejalan dengan terbukanya lapangan kerja, sehingga angkatan kerja tentu akan menuju Jawa dari seluruh pelosok negeri. Walaupun sebenarnya, hal ini bukan jadi alasan untuk mengesampingkan pembangunan di daerah lain.
b.      Infrastruktur lebih Fokus di Jawa, di Jawa pun tersebar berbagai infrastruktur handal dan modern. Mulai dari kampus-kampus, jalan-jalan, serta sarana transportasi lain. Bahkan baru-baru ini pemerintah juga tengah getol membangun jalur kereta cepat di Jakarta sementara di beberapa pelosok Indonesia masih ada yang belum kecipratan listrik hingga hari ini. Penduduk di Jawa hidup sangat nyaman, apa-apa murah, dimudahkan dengan fasilitas-fasilitas yang ada. Oleh karena itu tak heran kalau orang luar Jawa yang sudah ke Jawa,  tidak mau balik ke asalnya. Akibatnya penduduk di Pulau Jawa semakin meningkat, sementara daya dukung alam sudah semakin berkurang karena padatnya penduduk. Kepadatan penduduk yang tidak merata menimbulkan beberapa permasalahan dalam aspek kependudukan yang berakibat pada aspek lainnya seperti, munculnya permukiman kumuh, kebutuhan akan lapangan pekerjaan di suatu wilayah, kemacetan, pencemaran dan sebagainya. Jadi mengapa Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk paling tinggi dibandingkan dengan pulau lainnya, karena hampir semua aspek kegiatan terpusat di Pulau Jawa.

3.      Degradasi Kualitas  Lingkungan di Pulau Jawa
Sumber daya alam merupakan materi yang tersedia di Bumi yang digunakan untuk mendukung kehidupan dan kebutuhan manusia. Sumber daya alam memainkan peranan penting dalam perkembangan peradaban manusia. Mulai dari peradaban awal di Mesir hingga berlanjut ke zaman modern, sumber daya alam telah digunakan untuk memperkuat peradaban dan mendukung pondasi serta memelihara kehidupan manusia. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar peradaban awal berada di lembah sungai yang kaya dengan sumber daya alam. Salah satu sumber daya alam yang memegang peranan penting dalam perkembangan peradaban adalah hutan. Beberapa peradaban awal bangkit dan bertahan dengan adanya hutan, namun kemudian runtuh ketika terjadi kerusakan hutan yang menyebabkan kekeringan seperti peradaban Maya (Hodell et al, 1995; Haug et al, 2003; Elizalde, 2012) dan Mesopotamia (Weiss, 1993; Cullen, 2000).

Luas daratan pulau Jawa adalah 13 juta ha dan mayoritas hutannya merupakan hutan hujan tropis dengan ekosistem mulai dari mangrove hingga hutan hujan tropis dataran tinggi. Luas hutan di Jawa mencapai 3.312 ribu ha dengan hutan terluas di Jawa Timur (1.361 ribu ha) dan terkecil di D.I. Yogyakarta (16 ribu ha) dengan tingkat deforestrasi hanya 0,14% (KLHK, 2014). Keberadaan hutan di pulau Jawa yang relatif tidak banyak berubah dan rusak mendukung perkembangan masyarakat serta berpengaruh kepada keberadaan peradaban masyarakat Jawa untuk tetap tinggal di pulau Jawa.

Berdasarkan struktur morfologinya menurut Malamassam & Surtiari (2011), Pulau Jawa dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Pulau Jawa bagian utara, tengah, dan selatan. Pulau Jawa bagian utara berupa dataran rendah yang luas, memanjang dari Serang di bagian barat sampai ujung timur, mempunyai sungai-sungai yang bermuara ke Laut Jawa (Rusdiana, 2001). Pulau Jawa bagian utara memiliki karakteristik pantai yang landai akibat proses pembentukan delta yang cepat. Akibatnya, Pulau Jawa bagian utara memiliki banyak pelabuhan yang aktif dan berkembang dengan pesat. Kota-kota di sekitar pantai utara Pulau Jawa memiliki tingkat urbanisasi yang tinggi dan pertambahan penduduk yang tinggi terutama di wilayah yang dekat dengan pelabuhan (Malamassam & Surtiari (2011). Hal yang serupa terjadi di Pulau Jawa bagian tengah yang merupakan kawasan dengan kesuburan yang sangat tinggi. Wilayah ini memiliki deretan gunung dan pegunungan yang merupakan tempat hulu-hulu sungai utama (Rusdiana, 2001). Sungai-sungai dan mata air yang berada hingga bagian lereng di bagian atas perbukitan yang terdapat di wilayah ini sangat memungkinkan untuk pelaksanaan sistem pertanian sawah irigasi. Akan tetapi, pertumbuhan penduduk yang terus terjadi dan kepadatan penduduk yang terus meningkat mendorong terjadinya alih fungsi lahan subur sebesar 1,67 juta ha (Kartodiharjo & Jhamtani, 2006). Hal yang sebaliknya terjadi di Pulau Jawa bagian selatan, pertumbuhan penduduk lebih rendah dibandingkan Pulau Jawa bagian utara dan tengah. Secara morfologi, wilayah ini memiliki ciri kawasan karst atau batuan kapur dengan tingkat kesuburan rendah.

Pembangunan di Pulau Jawa lebih berkembang dibandingkan dengan di luar Jawa. Pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan berkembang pesat akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa dibandingkan dengan di luar Jawa. Selain itu, kondisi pasar dan tersedianya tenaga kerja mendorong perkembangan industri di Pulau Jawa.

Fenomena yang terjadi di Pulau Jawa menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara aspek kependudukan dan lingkungan. Dinamika yang terjadi di dalam aspek kependudukan akan mempengaruhi kondisi lingkungan hidup dan juga sebaliknya. Beberapa fenomena yang terkait dengan degradasi lingkungan adalah terjadinya bencana yang disebabkan oleh ulah manusia, seperti banjir dan tanah longsor. Dalam rentang tahun 1998-2004, tercatat bahwa banjir mencakup 32,96% dari kejadian bencana, sedangkan tanah longsor mencakup 25,04% di Pulau Jawa (Kartodiharjo dan Jhamtani, 2006). Tingginya angka ini menandakan tingkat kerusakan hutan dan lahan yang terjadi di Pulau Jawa. Menurut Malamassam & Surtiari (2011), daerah yang paling sering mengalami longsor dan banjir adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hutan merupakan penyangga ekosistem sehingga harus mampu menjalankan fungsi ekologi sebagai penyimpan air, penahan banjir, tanah longsor, menyuburkan tanah, menyediakan udara bersih, dan fungsi keanekaragaman hayati. Studi Ekawati et al. (2015) mengemukakan bahwa hutan di Pulau Jawa luasnya 12.960.071 Ha, kawasan hutannya sebesar 3.135.648,70 Ha (±24% dari luas Pulau Jawa), dengan tutupan hutan sekitar 19%. Hutan tersebut terdiri atas hutan lindung (735.194,560 Ha), hutan produksi (1.812.186,050 Ha), dan hutan konservasi (76.065,304 Ha). Lebih lanjut, luas hutan alam di DAS Bengawan Solo berkurang secara signifikan, yakni sekitar 31 persen hanya dalam kurun waktu lima tahun (2002-2007) dan beralih menjadi daerah perkebunan atau tanah terbuka serta permukiman yang meningkat menjadi 26 persen (Mawardi, 2008).

Masalah banjir di Pulau Jawa umumnya terjadi karena frekuensi curah hujan yang tinggi di daerah aliran sungai (DAS) dan lahan-lahan yang mengalami proses degradasi dan sistem drainase buruk (Malamassam & Surtiari, 2011). Menurut Rusdiana (2001), kondisi daerah aliran sungai (DAS) di Pulau Jawa umumnya pendek (30-70 km), sempit, dan curam (banyak berjurang) dengan luas rata-rata kurang dari 250 km2. Di antara DAS tersebut terdapat 24 DAS yang mempunyai luas lebih dari 250 km2 termasuk di dalamnya 7 DAS kritis yang mempunyai luas lebih dari 3.000 km2 dan 2 DAS mempunyai luas lebih dari 10.000 km2, yaitu DAS Brantas seluas 11.050 km2 dan DAS Solo 15.400 km2. Di daerah perkotaan, yakni di bagian hilir DAS, masalah drainase yang buruk merupakan juga menjadi penyebab terjadinya banjir. Morfometri sungai, danau, dan waduk mengalami perubahan yang relatif cepat karena proses sedimentasi yang dipicu oleh erosi yang semakin meningkat. Sedimentasi juga terjadi di waduk-waduk di Pulau Jawa, seperti Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri yang mengalami proses sedimentasi secara cepat karena erosi di bagian hulu sehingga daya tampung air waduk tersebut cepat merosot (Pasandaran et al., 2011).

Dari segi ketersediaan air, Pulau Jawa merupakan pulau yang kaya akan dengan sumberdaya air, tetapi bukan berarti Pulau Jawa terbebas dari krisis air. Ketersediaan air menjadi masalah serius karena DAS yang rusak, pengaruh perkembangan iklim global, kondisi lingkungan buruk, dan pencemaran. Menurut Arifianto (2010), jika dilihat dari ketersediaan air per kapita per tahun, di Pulau Jawa hanya tersedia 1.750 m3 per kapita per tahun, masih jauh di bawah standar kecukupan yaitu 2.000 m3 per kapita per tahun. Jumlah ini akan terus menurun sehingga diperkirakan pada tahun 2020 hanya akan tersedia 1.250 m3 per kapita per tahun. Lebih lanjut, Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika setidaknya terdapat 30 kabupaten yang mengalami kesulitan air, dan tergolong parah adalah yaitu di 13 kabupaten di provinsi Jawa Timur, 12 kabupaten di Jawa Tengah, 3 di Jawa Barat, 2 di DI. Yogyakarta, dan 2 kabupaten di provinsi Banten. Sedangkan menurut data BPS tahun 2000, desa yang rawan air bersih meliputi desa-desa di kabupaten Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Garut, Sukabumi, Grobogan, Demak, Blora, Rembang, Brebes, Wonogiri dan Cilacap (Mawardi,  2010).

Pencemaran air pada umumnya diakibatkan oleh kegiatan manusia. Besar kecilnya pencemaran akan tergantung dari jumlah dan kualitas limbah yang dihasilkan. Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut, karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan potensi pencemaran air sungai atau danau (Supriharyono, 2007). Sebagai contoh untuk Sungai Citarum di Provinsi Jawa Barat, memiliki bagian hulu sungai yang bermula di Gunung Wayang hingga daerah Waduk Saguling . Kerusakan lingkungan di bagian hulu sungai Citarum tersebut boleh dikatakan sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan (Imansyah, 2012).  Lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh Ridwan dkk., (2016) menunjukkan bahwa kualitas sungai dan estuari yang berada di kawasan Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten juga mengalami gangguan pencemaran akibat aktivitas manusia.

Kerusakan Pesisir dan Pantai. Secara ekologis berpotensi sebagai perlindungan terhadap wilayah pesisir dan pantai dari ancaman sedimentasi, abrasi, dan intrusi air laut. Kerusakan lingkungan yang dialami wilayah pesisir utara Pulau Jawa, makin lama makin parah, penyebabnya adalah terjadinya abrasi, pengikisan daratan oleh air laut. Diperparah lagi, tanaman bakau dan terumbu karang yang menjadi pertahanan pantai utara ikut hancur. Akibat abrasi berbagai infrastruktur rusak, lingkungan hancur, ekosistem berubah. Dan secara sosial ekonomi juga menciptakan bencana terhadap penduduk. Pencemaran industri dan abrasi yang jadi penyebabnya. Sebagai contoh, studi yang dilakukan oleh Damaianto dan Masduqi (2014) menunjukkan bahwa terjadi penurunan kualitas air di pantai utara Tuban akibat aktivitas manusia seperti pelayaran, pelabuhan nelayan, tempat pelelangan ikan dan industri di daerah pesisir diperkirakan memakai bahan-bahan yang mengandung logam berat. Lebih lanjut, perairan pesisir pantai Teluk Youtefa mengandung bahan cemaran organik yang berada diatas nilai baku mutu misalnya kadar COD tertinggi untuk semua lokasi sampling (Erari dkk, 2012). Sementara itu, Salah satu bentuk ekosistem yang memegang peranan penting di kawasan pesisir Indonesia adalah ekosistem mangrove. Hutan mangrove umumnya ditemukan hampir di seluruh wilayah pesisir dan laut Indonesia yang memiliki hubungan langsung terhadap pasang surut air laut di sepanjang pesisir. Hutan mangrove berperan sebagai salah satu penunjang perekonomian masyarakat pesisir. Secara ekologis, hutan mangrove juga memiliki banyak fungsi yaitu sebagai habitat biota laut, perlindungan wilayah pesisir dan pantai, penyerapan karbon, pencegah terjadinya abrasi dari berbagai ancaman sedimentasi, pemecah gelombang, dan tempat pemijahan bagi ikan yang hidup di laut bebas (Tarigan, 2008). Kerusakan ekosistem hutan mangrove di desa Teluk Belitung Kabupaten Kepulauan Meranti disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia seperti aktivitas industri, penebangan pohon dan abrasi pantai (Umayah dkk., 2016).

4.      Kearifan lokal sebagai salah satu kunci eksistensi orang Jawa
Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Tradisi dan budaya Jawa hingga akhir-akhir ini masih mendominasi tradisi dan budaya nasional di Indonesia. Di antara faktor penyebabnya adalah begitu banyaknya orang Jawa yang menjadi elite negara yang berperan dalam percaturan kenegaraan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Nama-nama Jawa juga sangat akrab di telinga bangsa Indonesia, begitu pula jargon atau istilah-istilah Jawa. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup memberi warna dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di Indonesia.

Di sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak hanya memberikan warna dalam percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek kehidupan lainnya. Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat (Koentjaraningrat, 1996: 100). Masyarakat Jawa merupakan salah satu masyarakat yang hidup dan berkembang mulai zaman dahulu hingga sekarang yang secara turun temurun menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai ragam dialeknya dan mendiami sebagian besar Pulau Jawa (Herusatoto, 1987: 10). Di Jawa sendiri selain berkembang masyarakat Jawa juga berkembang masyarakat Sunda, Madura, dan masyarakat-masyarakat lainnya. Pada perkembangannya masyarakat Jawa tidak hanya mendiami Pulau Jawa, tetapi kemudian menyebar di hampir seluruh penjuru nusantara. Bahkan di luar Jawa pun banyak ditemukan komunitas Jawa akibat adanya program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah. Masyarakat Jawa ini memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat lainnya, seperti masyarakat Sunda, masyarakat Madura, masyarakat Minang, dan lain sebagainya. Karakteristik tersebut saat ini lebih banyak dikenal sebagai salah satu kearifan lokal. Kearifan lokal masyarakat Jawa dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti: Kebudayaan dan adat istiadat Jawa, Orang Jawa dilihat dari segi kenikmatan hidup, Orang Jawa dilihat dari segi keyakinan dan kepercayaan.

a.       Kebudayaan dan adat istiadat Jawa
Masyarakat adalah kesatuan hidup dari mahluk mahluk manusia yang terikat oleh suatu system adat istiadat. Masyarakat Jawa merupakan salah satu masyarakat yang hidup dan berkembang mulai zaman dahulu hingga sekarang yang secara turun menurun menggunakan Bahasa jawa dalam berbagai dialeknya dan mendiami sebagian besar Pulau Jawa. Di Jawa sendiri selain berkembang masyarakat jawa juga berkembang masyarakat Sunda, Madura dan masyarakat-masyarakat lainnya. Karakteristik budaya Jawa adalah religius, non doktriner, toleran, dan optimistik.
Terdapat aturan dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa yang dikenal dengan Tri Panata, meliputi panata basa (perilaku bahasa, sopan dalam berbicara); panata rasa (perilaku perasaan, memperhatikan perasaan orang lain dan diri sendiri) dan panata karma (perilaku tindakan, yaitu bersikap welas asih, sabar dalam menerima takdir, dan memperlakukan alam dan sesama dengan bijak) (Sutarto, 2006). Lebih lanjut, Suyanto, (1990) menggambarkan bahwa bentuk karakter masyarakat jawa seperti berikut ini : (1) Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sungkan Paraning Dumadii dengan segala sifat dan kebesarannya; (2) Bercorak idealistis, percaya kepada sesuatu yang bersifat immaterill dan hal hal yang bersifat adi kodrati serta cenderung ke arah mistik; (3) Lebih mengutamakan hakikat daripada segi-segi formal dan ritual; (4) Mengutamakan cinta kasih landasan pokok hubungan antar manusia; (5) Bersifat konvergen dan universal; (6) Momot dan non sectarian; (7) Cenderung pada symbolism; (8) Cenderung pada gotong royong, gayub, rukun dan damai, dan; (9) Kurang kompetitif dan kurang mengutamakan materi.

Secara umum, doktrin yang telah diturunkan dari orang tua kepada anaknya dalam budaya Jawa adalah kepercayaan terhadap agama dan sistem kemasyarakatan Jawa. Kepercayaan terhadap agama berakar pada agama Islam, Nasrani, Hindu, Budha yang memadukan unsur  falsafah kehidupan Jawa di dalam menjalani hidup. Tiga doktrin yang selalu dipegang oleh masyarakat Jawa adalah suci, narima ing pandum (penerimaan) dan eling (mawas diri dan waspada). Jika tiga pegangan hidup tersebut dijalankan dengan baik, masyarakat Jawa percaya bahwa hidup akan berjalan aman, sempurna dan selamat (rahayu lan slamet) (Sutarto, 2006; Irawanto et al., 2011). Selain itu, terdapat suatu filosofi hidup yang digunakan untuk menghadapi suatu perubahan dalam hidup, yaitu alon-alon waton kelakon,yang diartikan sebagai pelan namun pasti.

Suku Jawa terkenal dengan sebagai suku yang sangat lembut, halus rendah hati dan tidak suka mencari masalah. Namun mereka memiliki semangat dan tekad yang kuat dalam menyeleseikan masalah dan meraih sesuatu. Tekad kuat juga terungkap dalam ungkapan surya dirajaya ningrat, pangruwating diyu,lebur dening pangastuti artinya siapapun yang berani membasmi angkara murka untuk membela kebenaran karena adanya keyakinan bahwa angkara murka pasti dapat dikalahkan oleh kebaikan (Sartini, 2009).

b.      Orang Jawa dilihat dari segi kenikmatan hidup
Orang Jawa cenderung menyukai hidup  nglaras, yaitu menyukai kenikmatan hidup atau menikmati hidup. Untuk mendapatkannya mereka bersedia mengabaikan kepentingan-kepentingan lainnya, sehingga dapat dikonotasikan sebagai mahkluk hedonisme yang memuja atau mengedepankan kenikmatan (Sardjono, 1992). Gaya hidup seperti ini yang mendorong orang Jawa memiliki etos kerja yang tinggi. Selain itu, sikap Nrimo ing pandum khas orang Jawa membuat mereka lebih tenang dengan segala kondisi yang ada, sehingga hidup mereka lebih rileks dan dapat menikmati apa yang mereka miliki (Wijayanti et al., 2010).

Pola kehidupan orang jawa memang telah tertata sejak nenek moyang, berbagai nilai luhur kehidupan tetap terjaga sampai saat ini.Orang Jawa sangat memegang teguh pepatah yang mengatakan: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini merupakan konsep dasar hidup bersama yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Kebiasaan hidup secara berkelompok menyebabkan rasa diri mereka sedemikian dekat satu dengan lainnya, sehingga saling menolong merupakan sebuah kebutuhan.Mereka selalu memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Bahkan dengan segala cara mereka ikut membantu seseorang keluar dari permasalahan, apalagi jika sesaudara atau sudah menjadi teman.

Idelogi kehidupan masyarakat Jawa meliputi perilaku alus, lair, batin mendasar kepada kehidupan sehari-hari dari masyarakat Jawa. Dengan bersama-sama menerapkan prinsip dan ideologi hidup Jawa, akan mengarah kepada kehidupan yang damai dan berkembang kepada filosofi ojo dumeh. Filosofi ini berarti bersikap rendah diri terhadap segala kelebihan hidup yang diterima, yang mengarah pada penerimaan terhadap kondisi hidup (Irawanto et al., 2011). Dikaitkan dengan adaptasi masyarakat Jawa terhadap perubahan kondisi kehidupan, filosofi nrimo ing pandum, ojo dumeh, dan alon alon waton kelakon menyebabkan masyarakat Jawa untuk lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat Jawa mampu bertahan pada kondisi lingkungan dan alam yang kurang baik, dikarenakan sikap nrimo dan keyakinan bahwa hidup yang dijalani  merupakan kelebihan yang dimiliki, serta yakin bahwa pelan namun pasti kondisi akan berubah menjadi lebih baik.

c.         Orang Jawa dilihat dari segi keyakinan dan kepercayaan
Filsafat dan pandangan hidup orang Jawa merupakan hasil krida, cipta, rasa, dan karsa sebagai refleksi dari realitas kehidupan (kasunyatan).Pandangan hidup orang Jawa banyak dipengaruhi oleh budaya animisme-dinamisme, Hindu, Budha, dan Islam.Hal itu tercermin pada pengadaan ritual slametan yang dulunya merupakan sarana pemujaan roh-roh nenek moyang, kini lebih banyak dimasuki muatan-muatan Islam. Menurut Haryanto (2013), selain merupakan bentuk permohonan dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME, slametan juga sarat dengan ajaran moral dan tata kelakuan (code of conduct) yang diharapkan menjadi pedoman hidup masyarakat luas. Tujuan dari itu semua tidak lain adalah untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis. Hal tersebut selaras dengan konsep  memayu hayuning buwono, mangasah mingising budi, mamasuh malaning bumi  (memakmurkan bumi, mengasah kepekaan batin, dan menghilangkan penyakit masyarakat).

Selain terdapat pada ritual-ritual agama, simbol-simbol dalam dunia Jawa juga tersebar dalam bentuk fisik bangunan dan konsep tata ruang. Salah satu mahakarya yang menjadi perwujudan dari simbol-simbol dalam bentuk fisik bangunan dan konsep tata ruang adalah keraton Yogyakarta. Bangunan-bangunan yang ada di Keraton Yogyakarta bukan sekedar bangunan fisik yang memiliki fungsi tertentu.Bangunan-bangunan tersebut memiliki makna simbolis atau filosofis hasil perenungan atau spekulasi melalui olah nalar (creative thought), olah rasa (feelings) dan olah pikir (intention). Ada dua prinsip yang menjadi akar utama pemikiran Jawa yang disimbolisasikan dalam berbagai bangunan yang ada di keraton. Prinsip pertama yaitu sangkan paraning dumadi-Manunggaling Kawula lan Gusti, yaitu kesatuan antara penguasa dan rakyat. Kedua adalah prinsip  Memayu hayuning Rat, yakni mempertahankan keseimbangan kebenaran, keindahan dan kebaikan alam (cosmic) baik mikro maupun makro.

Berdasarkan ketiga sudut pandang tersebut, kekayaan kearifan lokal di masyarakat Jawa yang berperan dalam membentuk pendidikan karakter. Kearifan lokal hanya akan abadi kalau kearifan lokal terimplementasikan dalam kehidupan konkret sehari-hari sehingga mampu merespons dan menjawab arus zaman yang telah berubah. Kearifan lokal juga harus terimplementasikan dalam kebijakan pengendalian laju degradasi lingkungan, misalnya dengan menerapkan penggunaan sumber daya alam dan lingkungan dengan bijaksana dan bekerjasama atau gotong royong secara kekeluargaan dalam pelaksanaan pencegahan terjadinya pencemaran sebagai salah satu wujud kearifan lokal kita. Untuk mencapai itu, perlu melestarikan kearifan local yang telah terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu di generasi muda masyarakat Jawa. Dengan demikian, kearifan lokal akan efektif berfungsi sebagai senjata, tidak sekadar pusaka yang membekali masyarakatnya dalam merespons dan menjawab terjadinya perubahan lingkunganzaman. Menggali dan melestarikan berbagai unsur kearifan lokal, tradisi dan pranata lokal, termasuk norma dan adat istiadat yang bermanfaat, dapat berfungsi secara efektif dalam pendidikan karakter, sambil melakukan kajian dan pengayaan dengan kearifan-kearifan baru.  Hal inilah yang menjadikan masyarakat Jawa tetap eksis dengan berbagai keunikannya, baik dari segi budaya, agama, tata krama, dan lain sebagainya ditengah-tengah terjadinya penurunan sumberdaya alam maupun degradasi kualitas lingkungan.

5.      Pulau Jawa sebagai Pilihan, akankah berkelanjutan?
Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan Pulau Jawa masih tetap menjadi primadona masyarakat untuk menyambung hidupnya. Minimal terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan Pulau Jawa memiliki “nilai jual” yang tinggi dibandingkan pulau-pulau lainnya di wilayah Republik Indonesia. Faktor utama tersebut adalah: aktivitas manusia yang berlangsung di satuan region Pulau Jawa, faktor geologis dan geografis, serta filosofi yang dipegang masyarakat di Pulau Jawa secara general.

Dari segi aktivitas manusia Pulau Jawa telah menjadi pusat kegiatan perekonomian, pendidikan, teknologi, dan industri. Pulau Jawa menyusun kurang lebih 55% dari total populasi Indonesia, lebih dari 141 juta jiwa pada tahun 2015. Dari segi pendidikan tinggi, persentase jumlah pendidikan tinggi negeri dan swasta sekitar berturut-turut sebesar 39.67% dan 47.94% (BPS, 2016), terbesar di Indonesia. Belum lagi ditilik dari segi kesejarahannya, institusi perguruan tinggi  telah lama dibangun di Pulau Jawa. Sebut saja Universitas Indonesia (tahun 1849), Universitas Airlangga (tahun 1913), Universitas Gajah Mada (tahun 1949), Institut Teknologi Bandung (tahun 1959), dan Insititut Pertanian Bogor (tahun 1963), institusi perguruan tinggi tersebut selalu menjadi incaran lulusan sekolah menengah atas untuk mengenyam bangku pendidikan. Pada SNMPTN tahun 2015 sebanyak 137,005 siswa lolos SNMPTN dan paling banyak diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) yang berlokasi di Jawa Timur (19,757 siswa), Jawa Barat (11,862 siswa), dan Jawa Tengah (11,777 siswa) (Qodar, 2015). Tentunya arus urbanisasi di dalam Pulau Jawa sendiri serta dari luar Pulau Jawa semakin menambah kepadatan penduduk.

Dunia konstruksi juga menunjukkan pola yang serupa. Menurut data BPS tahun 2016, sebanyak 50% pembangunan masih berpusat di wilayah administratif provinsi yang ada di Pulau Jawa (BPS, 2016). Angka ini setara dengan gabungan seluruh persentase konstruksi seluruh wilayah Indonesia. Tingginya angka konstruksi di Pulau Jawa dapat dilihat sebagai bentuk eksternalitas positif dari lengkapnya infrastruktur yang dibutuhkan industri, seperti sarana transportasi (jalan raya, tol, kereta api, pelabuhan, dan bandar udara) dan pembangkit energi (PLTA dan PLTU dengan daya di atas 800 MW). Taut kelindan sistem transportasi yang kompleks dituntut untuk memenuhi kebutuhan mobilitas penduduk Pulau Jawa yang semakin cepat. Berita-berita nasional tiap tahunnya selalu dihiasi topik arus mudik Idul Fitri, Idul Adha dan Natal-Tahun Baru (Anonim, 2016). Adanya arus kegiatan manusia yang tinggi juga menunjukkan adanya arus perputaran dana moneter nasional. Dibandingkan PDB Indonesia secara keseluruhan, Pulau Jawa menyumbang PDB Indonesia hingga 58.81 % pada triwulan II tahun 2016. Dan sebagian besar PDB tersebut didominasi oleh jasa keuangan (BPS, 2016).

Berdasarkan kesejarahannya Pulau Jawa telah menjadi pusat pemerintahan kolonial. Batavia menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdagangan rempah-rempah di kawasan Hindia Timur. Berbagai arsitektur kolonial dengan mudah kita temui di kota-kota besar Pulau Jawa. Dari gambaran ini saja menunjukkan keadaan masyarakat di Pulau Jawa telah terstratifikasi secara kompleks dengan Batavia sebagai pusat pemerintahannya. Pasca-kemerdekaan Indonesia dari kolonialisasi Belanda dan Jepang, Pemerintah Republik Indonesia juga menjadikan Batavia. Akibatnya, bila menilik pendapat Redfield tentang great-little tradition, maka Batavia menjadi magnet bagi perubahan sosio-politik di Indonesia hingga sekarang, efek yang sangat dirasakan adalah arus urbanisasi yang begitu kuat ke Pulau Jawa, khususnya ke kawasan Jabodetabek. Akibatnya, muncul suatu area besar Jabodetabeka yang tumbuh menyebar seperti membentuk “pulau” tersendiri (Grydehøj et al. 2015).

Aspek ekonomi dan sosial sangat memperkuat pengaruh anasir kebudayaan yang berada di Pulau Jawa dalam membentuk identitas budaya nasional. Kuatnya pengaruh ini juga berdampak pada pemberdaharaan kosakata dalam bahasa Indonesia.  Tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat (2008) terdapat 3,592 entri berasal dari bahasa daerah, dan bahasa Jawa (30.87%) dan Sunda (6.21%) merupakan komponen serapan terbanyak dalam entri tersebut. Unsur serapan yang banyak dari anasir budaya yang berasal dari Pulau Jawa tidaklah berlebihan, sebab sebagian besar penutur bahasa Indonesia juga merupakan penutur bahasa Jawa, sebesar 40.22%.

Dari aspek geografis Pulau Jawa sangat mendukung kegiatan pertanian. Rangkaian gunung berapi memberikan tanah vulkanik yang subur menambah kesuburan tanah untuk mendukung kegiatan pertanian. Tiga produk pangan utama di indonesia: padi, jagung, dan kedelai. Produksi padi tahun 2015 sebanyak 75.36 juta ton gabah giling kering. Setengah dari nilai tersebut disumbang dari Pulau Jawa. Bahkan produksi jagung dan kedelai dari Pulau Jawa lebih dari separuh produksi kedua komoditas dalam skala nasional (BPS, 2016). Kemudahan akses produksi ditunjang dengan kemudahan akses bahan baku semakin menambah daya tarik Pulau Jawa sebagai homebase industri-industri. Melihat keunggulan komparatif Pulau Jawa yang mampu menunjang berbagai aktivitas manusia, tak heran bila manusia pendukung yang hidup di Pulau Jawa masih dapat sintas bertahan melewati zaman. Sarana dan prasana yang lengkap, disertai dengan sikap laku manusia pendukung kebudayaannya yang cenderung bekerja keras dan nrimo, membuat masyarakat pendukung budaya di Pulau Jawa terus berevolusi menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Akan tetapi, akankah pendukung kebudayaan di Pulau Jawa masih dapat terus sintas? Atau pendukung kebudayaan tersebut berevolusi menjadi suatu bentuk kebudayaan yang lain? Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan filosofis yang selalu bergulat dalam relung dialektika kehidupan post-modern.

6.      Kesimpulan
Jawa adalah salah satu pulau di Indonesia dan merupakan salah satu yang di dunia. Dengan pertambahan populasi tiap tahunnya menjadikan pulau ini berpenduduk terbanyak di dunia dan merupakan salah satu tempat terpadat di dunia. Fenomena yang terjadi di Pulau Jawa menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara aspek kependudukan dan lingkungan. Dinamika yang terjadi di dalam aspek kependudukan akan mempengaruhi kondisi lingkungan hidup dan juga sebaliknya. Dinamika penduduk adalah perubahan keadaan penduduk. Perubahan perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertumbuhan penduduk di Pulau Jawa dipengaruhi oleh berbagai variabel demografi seperti kelahiran, kematian, dan migrasi. Fenomena yang terjadi di Pulau Jawa menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara aspek kependudukan dan lingkungan. Dinamika yang terjadi di dalam aspek kependudukan akan mempengaruhi kondisi lingkungan hidup dan juga sebaliknya. Beberapa fenomena yang terkait dengan degradasi lingkungan adalah terjadinya bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Tradisi dan budaya Jawa tidak hanya memberikan warna dalam percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek kehidupan lainnya. Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat. Filsafat dan pandangan hidup orang Jawa merupakan hasil krida, cipta, rasa, dan karsa sebagai refleksi dari realitas kehidupan (kasunyatan). Hal inilah yang menjadikan masyarakat Jawa tetap eksis dengan berbagai keunikannya, baik dari segi budaya, agama, tata krama, dan lain sebagainya ditengah-tengah terjadinya penurunan sumberdaya alam maupun degradasi kualitas lingkungan.

Daftar Pustaka
Anonim, 2015, The World Factbook, Central Intelegence Agency, terdapat pada: https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/id.html, diakses tanggal 25 Desember 2016.

Anonim, 2016, pergeseran kolom Jembatan Cisomang di ruas tol Cipularang, terdapat di: http://regional.kompas.com/read/2016/12/27/19091381/pergerakan.tanah.disebut.penyebab.pergeseran.jembatan.cisomang (Diakses 28 Desember 2016)

Arifianto E. 2010. Mengukur kinerja kota-kota di Indonesia dengan pendekatan city development index (CDI): kajian studi pada 32 kota di Pulau Jawa tahun 2008 [tesis]. Jakarta (ID): Fakultas Ekonomi Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik UI.

[BPS] Badan Pusat Statistik Nasional. 2016. Statistik Indonesia 2016, Katalog 1101001. No. Publikasi 03220.1610: hal. 82

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Berita Resmi Statistik No. 74/08/Th.XIX, 05 Agustus 2016: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2016.

Cullen HM, deMonocal PB, Hemming S, Hemming G, Brown FH, Guilderson T, and Sirocko F. 2000. Climate change and the collapse of the Arkkadian empire: Evidence from the deep sea. Geology Vol 28 No 4, 379 – 382.

Damaianto B. dan Masduqi A., Indeks Pencemaran Air Laut Pantai Utara Kabupaten Tuban dengan Parameter Logam, JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)

Darmawan B, Chotib. 2007. Perkiraan Pola Migrasi Antar Provinsi di Indonesia Berdasarkan Indeks Ketertarikan Ekonomi. Prosiding Seminar Poverty, Population and Health. Depok (ID): Universitas Indonesia.
Ekawati S, Budiningsih K, Sylviani, Suryandari E, Hakim I. 2015. Kajian tinjauan kritis pengelolaan hutan di Pulau Jawa. Policy Brief. 9(1): 1-8.

Elizalde MM, and Rohling EJ. 2012. Collapse of Classic Maya Civilization Related to Modest Reduction in Precipitation. Science Vol 335, 956 – 959.

Erari S.S., Mangimbulude J., Lewerissa K., 2012, PENCEMARAN ORGANIK DI PERAIRAN PESISIR PANTAI TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA, PAPUA (ORGANIC WASTE IN THE YOUTEFA BAY SHORELINE OF JAYAPURA, PAPUA), Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa 2012 – ISBN : 978-979-028-550-7.

Glinka J., 2001, Asal Mula Orang Jawa, Suatu Tinjauan Antropologis, Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th XIV14, No 2, April 2001, 1-8.

Grydehøj A et al. 2015. Returning from the horizon: Introducing urban island studies. Urban Island Studies, 1(1): 1-19

Haug GH, Günther D, Peterson LC, Sigman DM, Hughen KA, and Aeschlimann G. 2003. Climate and the Collapse of Maya Civilization. Science Vol 299, 1731 - 1735.

Haryanto, S. (2013). Dunia Simbol Orang Jawa.Kepel Press. Yogyakarta

Herusatoto, Budiono. (1987). Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Hodell DA, Curtis JH, and Brenner M. 1995. Possible role of climate in the collapse of Classic Maya civilization. Nature Vol 375, 391 – 394.

Imansyah M.F., 2012, Studi Umum Permasalahan  dan  Solusi  DAS Citarum Serta Anaisis Kebijakan Pemerintah, Jurnal Sosioteknologi Edisi 25 Tahun 11.

Irawanto, D. W., Ramsey, P. L., & Ryan, J. C. (2011). Challenge of leading in Javanese culture. Asian Ethnicity, 12(2), 125-139.

Kartodiharjo, Jhamtani. 2006. Politik Lingkungan dan Kekuasan di Indonesia. Jakarta (ID): Equinox Publishing Indonesia
[KLHK] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2014. Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2013. Jakarta [IND]

Koentjaraningrat, 1996, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Malamassam MA, Surtiari GAK. 2011. Identifikasi Kesesuaian Penduduk dan Lingkungan di Pulau Jawa. Noveria M, editor. Jakarta (ID): LIPI Press.

Mawardi I.,  2008, Upaya Meningkatkan Daya Dukung Sumberdaya Air Pulau Jawa., J. Tek. Ling., Vol. 9 No. 1 Hal. 98-107, ISSN 1441-318X

Mawardi, I., 2010,  Pembangunan Yang Berorientasi Daya Dukung Dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (Kasus Pulau Jawa). Jurnal Perencanaan Pembangunan., Edisi03/TahunXVI.

Na’im,  A. dan H, Syaputra. 2011. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia. Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta-Indonesia., terdapat di: http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/Kelompok_1/Referensi/BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf (Diakses 29 Desember 2016)

Pasandaran E, Syam M, Las I. 2011. Degradasi sumberdaya alam: ancaman bagi kemandirian pangan nasional [Internet]. [diunduh 2016 Des 27]. Tersedia pada: http://new.litbang.pertanian.go.id/buku/konversi-fragmentasi-lahan/BAB-II-2.pdf.

Pravitasari AE. 2009. Dinamika perubahan disparitas regional di Pulau Jawa sebelum dan setelah kebijakan otonomi daerah [tesis]. Bogor (ID): Sekolah Pascasarjana IPB.

Qodar N. 2015. Cek di sini 137,005 siswa lulus SNMPTN 2015. [terhubung berkala] dari http://news.liputan6.com/read/2229185/cek-di-sini-137005-siswa-lulus-snmptn-2015 (29 Desember 2016)

Ridwan M., Fathoni R., Fatihah I., Pangestu D.A., 2016, Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Empat Muara Sungai Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten, Al-Kauniyah Jurnal Biologi, 9(1), 57-65

Rusdiana, O., 2001, Kondisi dan Masalah Air di Pulau Jawa, Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. VII No. 1 : 49-54 (2001)

Sartini, N. W. (2009). Menggali nilai kearifan lokal budaya Jawa lewat ungkapan (Bebasan, saloka, dan paribasa). DAFTAR ISI, 5(1), 28.

Sèmah AM, and Sèmah F. 2012. The rain forest in Java through the Quaternary and its relationships with humans (adaptation, exploitation and impact on the forest). Quaternary International Vol 249, 120 – 128. Elsevier Ltd and INQUA.    doi:10.1016/j.quaint.2011.06.013

Supriharyono, 2007, Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Sutarto, A. (2006). Becoming a true Javanese: A Javanese view of attempts at Javanisation. Indonesia and the Malay world, 34(98), 39-53.

Suyanto. (1990). Pandangan Hidup Jawa. Semarang: Dahana Prize

Tarigan MS. 2008. Sebaran dan luas hutan mangrove di Wilayah Pesisir Teluk Pising Utara Pulau Kabaena Provinsi Sulawesi Tenggara. Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI, Jakarta 14430, Indonesia. Makara, Sains 2: 108 – 112.

Tebba, S., (2007). Etika dan Tasawuf Jawa: Untuk Meraih Ketenangan Hati. Pustaka. Tangerang hal. 102

Tolo, EYS. 2013. Sejarah Ekonomi Politik Tata Kelola Hutan di Indonesia [internet]. [diacu 28 Desember 2016]. Tersedia dari: http://www.indoprogress.com/2013/sejarah-ekonomi-politik-tata-kelola-hutan-di-Indonesia

Umayah S., Gunawan H., Isda M.N., 2016,  Tingkat Kerusakan Ekosistem Mangrove di Desa Teluk Belitung Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti, Jurnal Riau Biologia 1 (4): 24-30.

Weiss H, Courty MA, Wetterstrom W, Guichard F, Senior L, Meadow R, and Curnow A. The Genesis and Collapse of Third Millenium North Mesopotamian Civilization. Science Vol 261, 995 – 1004.

Wijayanti, H dan Nurwianti, F. 2010. Kekuatan karakter dan kebahagiaan pada suku Jawa., Jurnal Psikologi., Volume 3,No. 2, hal 114-122


Sertifikasi Ekolabel Pada Industri Kertas

Terdapat beberapa kriteria yang harus dilakukan oleh sebuah industri apabila ingin mendapatkan sertifikasi ekolabel, hal ini termasuk dalam ...