Tuesday, August 12, 2014

Tutorial Expert Choice



Expert Choice (EC) merupakan salah satu program aplikasi bantu (software) yang dapat digunakan sebagai salah satu tool untuk membantu para pengambil keputusan dalam menentukan suatu keputusan dalam memilih dari beberapa kriteria alternative keputusan. EC memberikan penawaran beberapa fasilitas mulai dari input data-data kriteria, dan beberapa alternatif pilihan, sampai dengan
penentuan tujuan. EC relatif mudah untuk diaplikasikan dengan interface yang sederhana. Di samping itu EC memiliki kemampuan lain yang disediakan adalah mampu melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif sehingga hasilnya dapat dikatakan lebih rasional. Software ini didukung dengan adanya gambar grafik dua dimensi sehingga membuat EC semakin menarik. EC didasarkan pada metode/proses hirarki analitik (Analytic Hierarchi Process/AHP).

link:


Saturday, August 9, 2014

Pencemaran Air Sungai

Air merupakan molekul yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia untuk dan demi peradapan manusia. Dari air bermula kehidupan dan karena air peradapan tumbuh dan berkembang. Air mempertahankan suhu tubuh, mendistribusikan nutrisi ke seluruh tubuh, melembabkan persendian, dan membantu pencernaan makanan. Air juga merupakan unsur alam terpenting kedua bagi kehidupan makhluk hidup setelah oksigen, maka air harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup, mudah didapatkan dan memenuhui persyaratan untuk dikonsumsi. 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Manusia mendapatkan air dari sumber-sumber air, baik yang ada dipermukaan tanah maupun air yang ada dalam tanah. Meskipun jumlah air di bumi relatif tetap sebesar ± 1.4 miliar km3, namun 97.1% berada di laut yang merupakan air yang mengandung kadar garam cukup tinggi, sekitar 2.15% tersimpan dalam bentuk es dan yang mempunyai potensi untuk dipergunakan manusia secara langsung maupun tidak langsung hanya 0.617%, dan 0.017 terdapat di sungai dan danau dan 0.600 berupa air tanah (Pramono 1999). Penelitian yang dilakukan oleh Machbub (1999), indeks ketersediaan air rata-rata (Average Water Availability Index, WAI) dunia adalah 7.6 (1000 m3/kapita/tahun), sementara di Asia hanya 4.0. WAI Indonesia adalah 16.8 lebih tinggi dari nilai rata-rata WAI Asia, namun penyebarannya tidak merata. Pulau Jawa yang luasnya mencapai tujuh persen dari total daratan wilayah Indonesia hanya mempunyai 4.5% dari total potensi air tawar nasional, namun pulau ini dihuni oleh sekitar 65% total penduduk Indonesia. Kondisi ini menggambarkan potensi kelangkaan air di Pulau Jawa sangat besar. Jika dilihat ketersediaan air per kapita per tahun, di Pulau Jawa hanya tersedia 1750 m3 per kapita per tahun, masih di bawah standar kecukupan yaitu 2000 m3 per kapita per tahun. Jumlah ini akan terus menurun sehingga pada tahun 2020 diperkirakan hanya akan tersedia sebesar 1200 m3
Secara alamiah sumber-sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan mempunyai daya generasi, namun akibat peningkatan beban pencemaran oleh berbagai sumber akibat pertumbuhan penduduk, industri, peternakan dan pertanian serta kegiatan lainnya telah menyebabkan pencemaran per kapita per tahun.
sumber-sumber air (Cheng et al. 2003). Untuk menentukan tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi tercemar atau kondisi baik suatu sumber air dalam waktu tertentu dilakukan dengan membandingkan baku mutu air yang ditetapkan. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 1990, sumber air menurut kegunaan/peruntukannya digolongkan menjadi empat, yaitu:
  1. Golongan A, yaitu air yang digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu;
  2. Golongan B, yaitu air yang dapat dipergunakan sebagai air baku untuk diolah sebagai air minum dan keperluan rumah tangga;
  3. Golongan C, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan; dan
  4. Golongan D, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan listrik negara.

Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001, membuat klasifikasi mutu air menjadi empat kelas, yaitu: a. Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; b. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; c. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut; d. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi, pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Air secara sangat cepat menjadi sumber daya yang makin langka dan tidak ada sumber penggantinya karena dari jumlah air yang mungkin dapat dimanfaatkan manusia, ternyata masih menghadapi beberapa permasalahan mendasar yaitu: (1) adanya variasi musim dan ketimpangan spasial ketersediaan air; serta (2) terbatasnya jumlah air segar di planet bumi yang dapat dieksplorasi dan dikonsumsi; sedangkan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah menyebabkan konsumsi air segar meningkat secara drastis. Pemakaian air global meningkat lima kali lipat pada abad yang lalu ketika penduduk dunia meningkat dari satu setengah sampai enam miliar orang, dan ketersediaan air perkapita diperkirakan akan menurun dengan sepertiganya pada beberapa dekade mendatang ketika penduduk dunia mencapai hampir sembilan miliar orang di tahun 2025.
Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh negara yang memiliki sumber daya air lebih banyak, akan tetapi krisis air diperkirakan akan terjadi juga akibat kesalahan pengelolaan air yang tercermin dari tingkat pencemaran air yang tinggi, pemakaian air yang tidak efisien, fluktuasi debit air sungai yang sangat besar, kelembagaan yang masih lemah dan penerapan peraturan perundang-undangan yang tidak memadai. Pencemaran air berhubungan dengan masalah limbah yang tergantung pada sifat-sifat kontaminan yang memerlukan oksigen, memacu pertumbuhan algae, penyakit dan zat toksik. Pencemaran terhadap sumber daya air dapat terjadi secara langsung dari saluran pembuangan (sewer) atau buangan industri dan secara tidak langsung melalui pencemaran air dan limpasan dari daerah pertanian dan perkotaan (non-point sources). Bahan pencemar memasuki sungai dapat melalui atmosfer, tanah, limpasan pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan lain-lain.

Sumber Pustaka:
Cheng H, Yang Z, Chan CW. 2003. An Expert System for Decision Support of Municipal Water Pollution Control. Journal Engineering Applications of Artificial Intellegence 16:159-166.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Machbub B. 1999. River Environment and People. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pengairan. No. 13. Th. 14-KW II:3-13.

Pramono R. 1999. Permasalahan Air di Perkotaan dan Perilaku Masyarakat. Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan & Lingkungan. No. 3: 39-45.



Friday, August 8, 2014

THE INITIAL INVESTIGATION OF HOUSEHOLD BATTERY WASTE, KNOWLEDGE, AWARENESS AND COMMUNITY PARTICIPATION IN SURABAYA CITY, EAST JAVA-INDONESIA

Abstract

As one part of the category of e-waste, household batteries are also considered as one of the hazardous waste in many countries because they contain heavy metals that could potentially harm human health and the environment. This paper presents the initial investigation of household battery waste in the city of Surabaya. Knowledge, awareness and community participation are also discussed. The data and information used in this study were collected by distributing questionnaires by random in 5 areas in the city of Surabaya and interviewed approximately 480 households. Research shows that other types of batteries figure out of around 57 %, about 24% of AA batteries, AAA roughly 15
% and 4 % for a 9V battery. Majority of Households, approximately 64 % know that used batteries can be a problem in the environment and human health. Households stated that the products of famous brands, cheaper prices, and advices from friends is a priority when they buy batteries. Despite their knowledge of the waste battery is fairly good, only about 31.5 % of households are willing to pay for the improvements of the electronic waste management system. However, households are willing to engage in recycling their waste batteries. Considering the a used battery waste generation continues to increase, recycling programs need to be introduced to the public for waste materials that have the potential risk to human health and the environment.
Keywords: e-waste, batteries, knowledge, awareness, willingness to pay.




link:
https://drive.google.com/a/univpancasila.ac.id/file/d/0B1yrndt6P-pYcko0OTJ0ZlJ2MHc/view?usp=sharing

Thursday, August 7, 2014

Penyusunan Struktur Hirarki


Sistem yang kompleks dapat dengan mudah dipahami kalau kita memecahkanya menjadi berbagai elemen yang menjadi elemen-elemen pokoknya, menyusun elemen-elemen tersebut secara hierarkis. Kemudian menyusun atau mensintesis pertimbangan kita tentang relatif pentingnya elemen-elemen tesebut pada setiap tingkat hierarki kedalam seperangkat prioritas menyeluruh.  
Hierarki merupakan alat mendasar dari pikiran manusia. Mereka melibatkan pengidentifikasian elemen-elemen suatu persoalan, mengelompokan elemen-elemen itu kedalam beberapa kumpulan yang homogen, dan menata kumpulan-kumpulan ini pada tingkat-tingkat yang berbeda.  Hierarki yang paling sederhana berbentuk linier, yang naik dan turun dari tingkat yang satu ketingkat yang lain. Hirarki yang kompleks berupa jaringan (network) dengan berbagai bentuk elemen yang saling berinteraksi.
Pada dasarnya ada dua macam hirarki, yaitu hirarki struktural dan hirarki fungsional.  Pada hirarki struktural, sistem yang kompleks disusun ke dalam komponen-komponen pokoknya dengan urutan menurun menurut sifat struktural mereka.  Misalnya, hirarki struktural alam semesta akan menurun dari galaksi ke konstelasi, sistem tata surya, ke planet, dan seterusnya menurun ke atom, inti, proton dan netron.
Sedangkan, hirarki fungsional menguraikan sistem yang kompleks menjadi elemen-elemen pokoknya menurut hubungan esensial mereka.  Solusi konflik kepentingan dalam hal bis sekolah dapat disusun menjadi beberapa kelompok, misalnya menurut pihak utama yang berkepentingan (masyarakat mayoritas, minoritas, pejabat kota, pemerintah), kelompok sasaran pihak yang berkepentingan (pendidikan anak, mempertahankan kekuasaan), dan berbagai alternatif hasil (memakai bis sekolah seluruhnya, sebagian, atau tidak sama sekali).  Hirarki fungsional ini yang menjadi pokok perhatian dalam AHP.Tidak ada aturan yang pantang dilangar untuk menyusun hierarki.  Ancangan dalam menyusun hierarki bergantung pada jenis keputusan yang perlu diambil. 
Dalam menyusun hierarki kita harus memasukan rincian yang relevan yang cukup untuk mengambarkan persoalan itu seksama mungkin.  Pertimbangkanlah lingkungan sekitar itu.  Identifikasikanlah masalah-masalah atau sifat-sifat (atribut) yang anda rasa membantu penyelesaian.   Menata tujuan, sifat, permasalahan dan pihak yang berkepentingan dalam suatu hierarki mempunyai dua makna memberi pandangan menyeluruh terhadap berbagai hubungan kompleks yang melekat pada situasi, serta, memungkinkan si pengambil keputusan menilai apakah ia sedang membandingkan masalah-masalah dengan derajad besaran yang sama dalam hal bobot atau pengaruh terhadap solusi.
Jika persoalanya adalah memilih alternatif, kita dapat memulai dari tingkat dasar dengan menderet semua alternatif itu.  Tingkat berikutnya harus terdiri atas kriteria untuk mempertimbangkan berbagai alternatif tadi.  Dan tingkat puncak haruslah satu elemen saja, yaitu fokus atau tujuan menyeluruh.  Di sana kriteria itu dapat di bandingkan menurut pentingnya kontribusi masing-masing.
Jumlah tingkat dalam suatu hierarki tidak ada batasnya jika kita tidak mampu membandingkan elemen-elemen dalam satu tingkat terhadap elemen-elemen dari tingkat lebih tinggi berikutnya, kita harus bertanya, terhadap apa elemen-elemen tadi bisa dibandingkan. Lalu mengupayakan suatu tingkat antara, yang berarti pemecahan elemen-elemen dari tingkat yang lebih tinggi yang berikutnya tersebut.  Jadi, satu tingkat baru sudah dimasukan untuk memudahkan analisa pembandingan dan untuk meningkatkan kecermatan pertimbangan.  Ingat, bahwa sekali hierarki telah disusun, bukan berarti harus tetap kaku begitu.  Kita selalu dapat mengubah beberapa bagianya kelak untuk menampung kriteria baru, yang baru berfikir, atau yang dianggap tidak penting ketika kita pertama-tama merancangnya.

Monday, August 4, 2014

Prosedur AHP

Langkah-langkah atau prosedur yang harus dilakukan dalam metode AHP untuk pemecahan suatu masalah, yaitu :
  1. Definisikan persoalan dan rincian pemecahan yang diinginkan.
  2. Struktur hirarki dari sudut pandang menyeluruh (dari tingkat puncak sampai ke tingkat dimana dimungkinkan campur tangan untuk memecahkan persoalan ini).
  3. Buatlah sebuah matrik banding berpasangan untuk kontribusi atau pengaruh setiap elemen yang relevan atas setiap kriteria yang berpengaruh yang berada setingkat diatasnya. Dalam matrik ini, pasangan-pasangan elemen dibandingkan berkenaan dengan suatu kriteria di tingkat lebih tinggi.  Dalam membandingkan dua elemen, kebanyakan orang lebih suka memberi suatu pertimbangan yang menunjukan dominasi sebagai suatu bilangan bulat.  Jika satu elemen tak berkontribusi lebih dari elemen lainnya, elemen yang lainya ini pasti berkontribusi lebih dari elemen itu.  Bilangan ini dimasukan dalam tempat yang semestinya dalam matriks itu dan nilai kebalikanya dalam tempat yang lain itu.  Menurut perjanjian, suatu elemen yang di sebelah kiri di periksa perihal dominasinya atas suatu elemen di puncak matriks.  
  4. Dapatkan semua pertimbangan yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat matriks dilangkah 3.  Jika ada banyak orang yang ikut serta, tugas setiap orang dapat dibuat sederhana dengan mengalokasikan upaya secara tepat,pertimbangan ganda dapat disintesis dengan memakai rata-rata geometrik.
  5. Setelah mengumpulkan semua data banding berpasangan itu dan memasukan nilai-nilai kebalikanya besarta entri bilangan 1 sepanjang diagonal utama, prioritas dicari dan konsistensi diuji.
  6. Laksanakan langkah 3, 4 dan 5 untuk semua tingkat dan gugusan dalam hierarki itu
  7. Gunakan komposisi secara hierarkis (sintesis) untuk membobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria-kriteria, dan jumlahkan semua entri prioritas terbobot yang bersangkutan dengan entri prioritas dari tingkat bawah berikutnya, dan seterusnya.  Hasilnya adalah vektor prioritas menyeluruh untuk tingkat hierarki paling bawah.  Jika hasilnya ada beberapa buah dapat diambil nilai rata-rata aritmatiknya.
  8. Evaluasi konsistensi untuk seluruh hieraraki dengan mengalihkan setiap indeks konsistensi dengan prioritas kriteria bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya.  Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang mengunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing-masing matriks.  Dengan cara yang sama setiap indeks konsistensi acak juga dibobot berdasarkan prioritas kriteria yang bersangkutan  dan hasilnya dijumlahkan. Ratio konsistensi hierarki ini harus 10 persen atau kurang.  Jika tidak mutu informasi itu harus diperbaiki, barangkali dengan memperbaiki cara menggunakan pertanyaan ketika membuat pembanding berpasangan.  Jika tindakan ini gagal memperbaiki konsistensi, ada kemungkinan persoalan ini tak terstruktur secara tepat, yaitu elemen-elemen sejenis tidak dikelompokkan dibawah suatu kriteria yang bermakna.  Maka kita perlu balik kelangkah 2, meskipun mungkin hanya bagian-bagian persoalan dari hierarki itu yang perlu diperbaiki.

Sertifikasi Ekolabel Pada Industri Kertas

Terdapat beberapa kriteria yang harus dilakukan oleh sebuah industri apabila ingin mendapatkan sertifikasi ekolabel, hal ini termasuk dalam ...