Monday, July 28, 2014

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

Analytic Hierarchy Process (AHP) mencerminkan cara alami kita dalam bertingkah laku dan berfikir. AHP adalah suatu proses “rasionalitas sistemik”. Dengan AHP kita dimungkinkan untuk mempertimbangkan suatu persoalan sebagai satu keseluruhan dan mengkaji interaksi serempak dari berbagai komponen yang disusun secara berjenjang (hirarkis) sehingga mudah dipahami dan dianalisis.
AHP menangani persoalan kompleks sesuai dengan interaksi-interaksi pada persoalan itu sendiri.  Proses ini membuat orang dapat memaparkan persoalan sebagaimana mereka lihat dalam kompleksitasnya yang memperluas definisi dan strukturnya melalui pengulangan.  Untuk mengidentifikasikan persoalan yang kritis, mendifinisikan strukturnya, dan menemukan serta menyelesaikan konflik. AHP memerlukan informasi dan pertimbangan dari beberapa peserta dalam proses itu. Melalui serentetan kerja matematis, AHP mensintesis penilaian-penilaian mereka menjadi suatu taksiran menyeluruh dari prioritas-prioritas relatif berbagai alternatif tindakan.  Prioritas-prioritas yang di hasilkan AHP merupakan satuan dasar yang digunakan dalam semua jenis analisis.
AHP dapat digunakan untuk merangsang timbulnya gagasan untuk melaksanakan tindakan kreatif, dan untuk mengevaluasi keefektifan tindakan tersebut.  Selain itu, untuk membantu para pemimpin menetapkan informasi apa yang patut dikumpulkan guna mengevaluasi pengaruh faktor-faktor relevan dalam situasi kompleks.  AHP juga dapat melacak ketidakkonsistenan dalam pertimbangan dan preferensi peserta, sehingga para pemimpin mampu menilai mutu pengetahuan para pembantu mereka dan pemantapan pemecahan itu.
Beberapa keuntungan yang terlihat dalam penerapan AHP, antara lain:
1.    Sifatnya yang fleksibel, menyebabkan penambahan dan pengurangan kriteria (elemen) pada suatu hirarki dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mengacaukan atau merusak hirarki.
2.    Dapat memasukkan preferensi pribadi sekaligus mengakomodasi berbagai kepentingan pihak lain, sehingga diperoleh penilaian yang objektif dan tidak sektoral.
3.    Proses perhitungannya relatif mudah karena hanya membutuhkan operasi dan logika sederhana.
4.    Dengan cepat dapat menunjukkan prioritas, dominasi, tingkat kepentingan, ataupun pengaruh dari setiap elemen terhadap elemen lainnya.
Walaupun demikian, penggunaan AHP juga mengandung beberapa kelemahan, antara lain :
1.    Partisipan yang dipilih harus benar-benar memiliki kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman mendalam terhadap segenap aspek permasalahan serta mengenai metode AHP sendiri.
2.    Bila terdapat partisipan yang sangat “kuat” akan mempengaruhi partisipan lainnya.
3.    Penilaian cenderung subjektif, karena sangat dipengaruhi situasi serta preferensi, persepsi, konsep dasar, dan sudut pandang partisipan.
4.    Jawaban atau penilaian responden yang konsisten tidak selalu logis dalam arti sesuai dengan permasalahan yang ada. 

Sumber:
Saaty, Thomas L. & Luis G. Vargas. 2012. Models, Methods, Concept & Aplications of the Analytic Hierarchy Process, Internationel Series in Operations Research & Management Science. Second Edition. New York: Springer.


No comments:

Post a Comment

Sertifikasi Ekolabel Pada Industri Kertas

Terdapat beberapa kriteria yang harus dilakukan oleh sebuah industri apabila ingin mendapatkan sertifikasi ekolabel, hal ini termasuk dalam ...